Hantu Kaki Bukit

Monday, July 26, 2010

Hari ini Ardian dan keluarganya akan pindah rumah ke sebuah desa Suka Makmur, desa kelahiran ayah Ardian. Ardian sebenarnya tidak mau pindah rumah, tetapi orang tuanya memaksa dan sampai akhirnya Ardian menurut saja kepada kedua orang tunya. Setelah selesai mengemasi barang – barangnya, mereka pun segera berangkat. Di perjalanan Ardian hanya diam saja, tidak mau berkata apa – apa, ia hanya mengunyah permen karet kesukaannya dan membaca buku horornya yang tak pernah ketinggalan. Kedua orang tuanya hanya bisa geleng – geleng kepala melihat kelakuan anak semata wayangnya itu. Jarak rumah mereka yang baru sangatlah jauh. Membutuhkan waktu 5 jam dengan mobil. Karena mengantuk Ardian pun tertidur pulas, buku ceritanya menutupi mukanya.


Sesampainya di rumah mereka yang baru, Ardian dengan lemas masuk keluar mobil dan segera duduk di bangku teras. Rumah barunya cukup besar, terdiri atas 2 lantai. Kamar – kamar berada di lantai atas. Ardian hanya melihat kedua orang tuanya yang sedang menurunkan barang – barang mereka dari mobil. Ardian lalu beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju mobil dan mengeluarkan sepedanya dari bagasi mobil, Ardian lalu mengayuh sepedanya dan segera pergi dari rumahnya yang baru.


Di perjalanan Ardian heran, karena di desa ini terasa sepi sekali, tidak ada satu orang pun yang berada diluar rumah. Ardian terus mengayuh sepedanya. Sampai akhirnya Ardian sampai di sebuah hutan di kaki bukit, disana tempatnya sepi sekali, tak ada satu pun tanda – tanda kehidupan. Entah kenapa Ardian merasa terpanggil untuk memasuki hutan tersebut. Saat Ardian akan memasuki hutan tersebut, tiba – tiba ada seorang kakek – kakek yang mencegahnya, dan melarang Ardian memasuki hutan tersebut. Ardian lalu melihat dalam hutan tersebut dengan seksama, saat Ardian menoleh kembali, kakek tersebut sudah tidak ada lagi. Ardian lalu cepat – cepat meninggalkan tempat itu, dengan cepat ia menggayuh sepedanya. Ia tidak menghiraukan permen karet yang ada di saku celananya jatuh berceceran di jalanan.


Sesampainya di rumah, ia menceritakan kejadian itu kepada orang tuanya, tetapi ayah Ardian membantah kalau di desa ini tidak ada bukit apalagi hutan. Tetapi Ardian tetap ngotot dengan pendiriannya. Ayah lalu menyuruh Ardian mandi dan beristirahat, karena Ardian kelihatan kelelahan. Ardian pun menurut saja, Ayah lalu mengantar Ardian ke kamar barunya. Kamar Ardian ada di lantai paling atas, di kamarnya terdapat jendela kaca, yang apabila di buka, bisa langsung melihat jalan depan rumahnya.


Ardian lalu mengambil peralatan untuk mandi kemudian masuk kamar mandi dan segera mandi. Sekitar 15 menit pun berlalu, Ardian sudah selesai mandi, kemudian Ardian menemui orang tuanya di ruang makan. Ardian dan keluarganya lalu makan malam, Ardian makan dengan lahapnya. Setelah makan, Ardian lalu kembali ke kamarnya dan tidur. Saat akan tidur, Ardian teringat kembali dengan hutan yang berada di kaki bukit perbatasan desa Suka Makmur, Ardian benar – benar penasaran dan ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa bukit itu memang benar – benar ada.


Keesokan Harinya, Ardian didaftarkan kesekolah terfaforit di desa itu, jarak sekolah dengan rumahnya tidak cukup jauh, hanya membutuhkan waktu 15 menit. Ardian langsung bisa mengikuti pelajaran pada hari itu, Ardian masuk di kelas VB. Kepala sekolah lalu memperkenalkan Ardian di depan kelas. Teman – teman baru Ardian menyambut hangat kedatangan Ardian. Ardian cukup senang karena ia akan mempunyai teman – teman baru. Ardian duduk di bangku paling depan dengan seorang gadis yang bernama Jelita. Belum sehari mereka kenal, mereka sudah sangat akrab.


Bel pun berbunyi, pertanda sekolah telah usai. Ardian menawari Jelita untuk mengantarnya pulang. Jelita pun setuju, mereka pulang bersama. Saat dalam perjalanan, Ardian tanpa sengaja melihat permen karetnya yang kemarin berjatuhan. Ardian ingat betul dimana permen – permennya perjatuhan. Tetapi kenapa permennya bisa jatuh ditempat ini? Ardian bengong sejenak. “Kenapa kamu malah bengong?”, tanya Jelita sedikit bingung. “Oh, tidak..tidak apa – apa kok”, jawab Ardian terbata – bata. Mereka lalu melanjutkan perjalanan, tak lama kemudian, sampailah mereka dirumah Jelita.


Jelita menawari Ardian untuk mampir sebentar, tetapi Ardian menolaknya tetapi Ardian berjanji akan kembali setelah ia ganti baju, tanpa bepikir panjang lagi, Ardian segera pulang kerumah dengan perasaan bingung bercampur heran. Ardian seperti biasa selalu mengayun sepeda dengan kecepatan tinggi. Sesampainya dirumah, Ardian segera meletakkan tas dan mengganti baju seragamnya dengan baju bermain. Setelah selesai ganti baju, Ardian buru – buru ke dapur mencari makanan, setelah kenyang Ardian segera menuju garasi dan mengeluarkan sepedanya lalu segera pergi. Orang tua Ardian hanya geleng – geleng kepala melihat tingkah ardian, baru dua hari ia pindah, tetapi Ardian sudah keluyuran kesana – kemari.


Kali ini Ardian mengayuh sepedanya dengan santai, ia ingin menikmati perjalanan. Akan tetapi setelah kira – kira 20 menit mengayuh sepeda, Ardian tidak juga menemukan rumah Jelita, padahal tadi saat mengantar Jelita, 10 menit pun sampai. Ardian lalu mengayuh sepedanya kencang – kencang, tetapi Ardian tetap tidak menemukan rumah Jelita. Ardian malah sampai di hutan kaki bukit perbatasan desa Suka Makmur.


Jantung Ardian berdebar sangat kencang, ia pun mendekat ke hutan itu. Samar – samara ia melihat bayangan seorang gadis sebayanya. Gadis itu melambai – lambaikan tangannya. Seolah – olah memanggil Ardian. Tanpa pikir panjang pun Ardian segera turun dari sepedanya dan segera melangkahkan kakinya. Ardian sedikit berlari agar tidak kehilangan jejak gadis itu. Semakin lama, semakin Ardian masuk hutan itu. Saat gadis itu berhenti dan membalikkan badannya. Ardian yang tadinya berlari langsung berhenti seketika dan terkejut. Karena gadis yang dibuntutinya adalah Jelita.


“Mengapa kamu ada di tempat seperti in?”, tanya Ardian keheranan. “Aku tersesat disini, aku ingin pulang, aku butuh teman”, jawab Jelita sedikit merintih. Tanpa berpikir panjang, ardian pun menjawab “aku mau menjadi temanmu untuk selamanya”. Mendengar jawaban Ardian, Jelita senang sekali. Jelita lalu mengajak Ardian keliling hutan tersebut. Sepontan Ardian bertanya “tadi kamu bilang kamu tersesat dihutan ini, tapi kenapa sekarang kamu malah mengajakku berkeliling hutan ini?”. Jelita hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ardian. Setelah lama mereka berjalan, Ardian merasa sangat lelah, hari pun semakin gelap. Ardian ingin sekali pulang, saat Ardian mengajak Jelita pulang. Wajah Jelita berubah menjadi pucat dan sedih. “Aku takut sendirian, aku sudah tidak mempunyai siapa – siapa lagi kecuali kamu, kamu sudah berjanji akan menjadi temanku untuk selamanya, jadi kamu harus menemaniku”, ujar Jelita dengan raut wajah yang ketakutan. Ardian tidak tega meninggalkan Jelita sendirian ditengah hutan seperti ini.


Akhirnya Ardian dan Jelita mencari tempat yang pantas untuk tidur. Jelita berjalan seakan - akan sudah hafal jalan di hutan itu dengan baik. Tetapi Ardian hanya menurut saja, ia tidak berani bertanya macam – macam lagi, karena ia takut menyinggung Jelita. Mereka akhirnya sampai disebuah sumur tua, disana Jelita mengambil alas, yang seolah – olah sudah sering digunakan untuk tidur, karena alas itu tidak banyak debu. Ardian mulai curiga dengan Jelita. Tapi Ardian menyimpan kecurigaannya itu.


Mereka mengumpulkan ranting – ranting kering untuk membuat api unggun. Jelita segera mengeluarkan korek api. Kecurigan Ardian pun semakin kuat. Ardian mulai merasa takut, dan ingin sekali pulang. Tapi ia telah berjanji, Ardian berusaha menghilangkan perasaan takutnya itu. Lalu ia membantu Jelita menyalakan api unggun. Api pun menyala, emereka duduk berdampingan menghadap api unggun itu untuk menghangatkan tubuhnya. Tapi Ardian merasa dingin sekali saat duduk berdekatan dengan Jelita, padahal api menyala berkobar – kobar.


Malam semakin larut, mereka pun mengantuk dan akhirnya mereka tertidur pulas. Hingga tengah malam, Ardian pun terbangun. Ia melihat sesosok gadis masuk dalam sumur. Ardian mengambil kayu yang masih menyala. Lalu mendekat ke sumur itu. Saat ia sudah berada di bibir sumur. Tiba – tiba punggung Ardian ditepuk dari belakang, Ardian menjerit sekencang – kencangnya. Jelita lalu menenangkan Ardian. Ardian kemudian menceritakan apa yang ia lihat tadi. Jelita hanya tertawa kecil mendengar cerita itu. “Tetapi sepertinya Jelita menyembunyikan sesuatu dariku, aku harus mencari tau, mengapa raut wajahnya berubah ketika aku menceritakan apa yang aku lihat tadi?”, gumam Ardian. Setelah agak tenang, Ardian meneruskan tidurnya.


Keesokan paginya, saat Ardian terbangun. Ia tidak mendapati Jelita lagi. Entah kenapa mata Ardian tertuju pada sumur tua yang semalam membuatnya takut. Ardian lalu mendekati sumur itu. Ia menoleh ke kiri, kanan, dan belakang, takut kejadian semalam terulang lagi. Tapi saat ia menghadap ke sumur lagi. Sesosok mayat anak perempuan yang mirip dengan Jelita dan sekujur tubuhnya berlumuran darah sudah tergantung di batang pohon besar yang berada tepat di atas sumur itu. Ardian pun berteriak sekuat tenaga. Ia pun berlari terpontang – panting tanpa arah.


Kemudian badannya terasa diguncang – guncangkan dengan keras, saat itu juga terdengar suara perempuan yang memanggil nama Ardian, semakin cepat Ardian lari, semakin keras pula guncangan itu. Sampai akhirnya Ardian terjatuh ke sebuah jurang. Saat ia sadar, ia melihat kedua orang tuanya yang memasang wajah keheran – heranan. “Ardian, cepat bangun dan bantu ayah dan ibu membereskan barang – barang, kamu mimpi apa kok teriak – teriak, sampai – sampai kamu terjatuh dari kursi mobil?”, tanya ibu Ardian yang masih terheran – heran.


Ardian yang baru sadar bahwa ia hanya bermimpi pun tertunduk malu. “Kamu mimpi buruk ya? Makanya lain kali jangan membaca cerita horor lagi”, ujar ayah sambil nyengir. Ardian lalu memungut buku ceritanya yang tertindih tubuhnya. Ia membaca judul buku tersebut “HANTU KAKI BUKIT”. “Ternyata aku hanya bermipi”, gumam Ardian. Ardian pun segera menyimpan buku tersebut di dalam dashboard mobilnya. Lalu ia segera membantu orang tuanya menurunkan barang – barang dari bagasi mobil.

Get This Comment Form

0 comment(s):

 
Copyright© 2010 Felisitas Brillianti | Semelekete Weleh Weleh | http://felisitasbrillianti.blogspot.com